< surat untukĀ adit - l u n e
surat untuk adit

Hai, Dit.
Apa kabar kamu disana? Klise ya, aku selalu memulai suratku dengan 4 kata tersebut. Namun, itulah yang ingin kutanyakan setiap saat, Dit.
Apa kabarmu disana?
Apakah udara german mampu membuatmu lupa dengan aku?
Mengapa kamu tak pernah datang menjemputku ditempat terkutuk itu?
Mengapa merelakanku terlihat begitu mudah bagimu?
Itulah segelintir pertanyaan yang ingin kutanyakan. Sebenarnya masih banyak, namun buat apa pula aku menulisnya disini? Toh surat ini takkan pernah sampai kepadamu juga, Kan?
Dit, aku sedang dirumah baruku saat menulis surat ini. sedang dirumah baruku dengan dia. Rumah ini terlalu luas untuk kami berdua dan putri kecilku. Ah, iya, kamu pasti kaget mendengar ini, tapi 2 tahun lalu aku telah melahirkan anak perempuan yang cantik. Namanya Aya. Aya Sophia. Apakah kamu ingat nama itu? Iya, dulu kita selalu ingin memberikan nama anak perempuan kita itu.  Dia cantik, Dit. Dia punya mataku dan hidung suamiku. Dia anak yang periang dan mudah bergaul. Sama sepertiku, katamu dulu.
Dit, mengapa dulu, 3 tahun lalu kamu tidak menjemputku dan membiarkanku dinikahkan dengan lelaki yang sama sekali tak kucintai? Mengapa kamu justru pergi, dan meninggalkanku disini sendirian? Kamu janji, Kan, Dit bakal bawa aku ke german denganmu saat kamu akan melanjutkan studimu di negara itu? Mengapa kamu malah merelakan aku dinikahkan dengan lelaki itu? Seharusnya kamu berteriak lantang saat itu didepan penghulu bahwa kamu tidak setuju dan bawa aku lari ke german, Dit.  Ah, sekarang semua sudah terlambat. Kamu mungkin telah menemukan penggantiku disana dan kamu telah menjadi seorang arsitek handal yang selama ini kamu selalu sebutkan.

Adit, good luck on your new life.
I miss you. So damn much it hurts.
Jakarta, 29 januari 2029