hai Amanda, apa kabar kamu disana?
Semoga dirimu selalu baik-baik saja. Aku disini sedang bejuang melawan udara dingin yang kamu tau aku sangat benci.
Apa kabar kamu disana? Itulah pertanyaan yang selalu menghantuiku selama ini. maafkan aku, yang tidak menjemputmu saat hari terkutuk itu dan malah pergi dari Indonesia dan tidak menghubungimu lagi setelahnya. Maafkan aku yang tidak bisa berbuat apa-apa hingga sekarang. hingga semua sudah terlambat seperti ini.
Nda, aku menulis surat ini di sebuah café di Wina, Austria. Ya, aku sedang di Wina. Sedang menyelesaikan penelitian untuk tugas akhirku. aku ditemani secangkir kopi hitam nan panas di meja. Diseberang mejaku ada sebuah keluarga kecil dengan seorang anak perempuan yang memiliki mata bulat. Dia nampak periang, seperti dirimu dulu, Amanda. Aku ingat sekali dulu kamu sering bilang sama aku bahwa kamu ingin anak perempuan dengan nama Aya Sophia, seperti nama sebuah museum yang ada turki. Bagian dari sejarah islam yang sangat kamu sukai. Kamu juga bilang kamu ingin Aya Sophia punya mataku karena kamu bilang mataku lucu dan kamu juga ingin dia punya hidungmu, karena hidung adalah bagian tubuh favoritemu.
Amanda, aku tahu sekarang kamu sudah punya Aya Sophia dengan lelaki lain. Mungkin kamu bertanya-tanya dari mana aku tahu tentang dia. Ia adalah teman kecilku, Amanda. Mungkin kamu bertanya-tanya jika dia teman kecilku mengapa kamu tidak pernah bertemu dengan dia sebelumnya. Dia menghabiskan masa SMA nya di Singapore dan melanjutkan kuliahnya disebuah universitas di Kyoto, jepang. Kita hanya berhubungan dengan e-mail. Sampai suatu hari dia pulang kembali ke Indonesia. Kita bertemu dia sebuah café di sebuah daerah di Jakarta, dia berkata dia sudah dijodohkan dengan seorang wanita yang dipilihkan orangtuanya. Dia nampak sangat senang, dia bercerita bahwa wanita itu sangat cantik dan anggun. Ketika dia menunjukan fotonya, ternyata itu dirimu, Amanda. Pada saat itu aku tidak dapat berkata apapun lagi. Pikiranku kosong. Yang aku pikirkan adalah bagaimana cara bersamamu namun tidak melukai dirinya. Itu alasan mengapa aku tak pernah berusaha untuk membawamu lari dari keluargamu dan hidup denganku. Aku tidak mau menyakiti hatinya. Akhirnya kuputuskan untuk melanjutkan studiku di German untuk, sebut saja, melarikan diri.
Aku berangkat tepat saat hari pernikahan kalian. Sungguh, Amanda, rasanya seperti ingin mati. Rasanya ingin ku menabrakan diriku di rel kereta api. Namun kuputuskan untuk tetap berangkat. Tak banyak yang tahu tentang kepergianku. Buat apa pula memberi tahu? Toh seorang yang membuatku tetap tinggal sedang berada di pelaminan dengan lelaki lain. Aku berangkat dengan baju warna biru langit, warna kesukaanmu. Hingga detik-detik sebelum pesawat membawaku pergi, aku masih berharap kamu berlari kearahku dan memelukku erat dan aku bangun dari mimpiku dan semua ini hanyalah mimpi. Tapi tidak Amanda, semua adalah kenyataan pahit yang harus aku hadapi.
Kehidupan di German sangat menyesakan dada, Amanda. Aku selalu menemukan serpihan dirimu disetiap sudut kota. Disetiap kelas yang kumasuki, disetiap perpustakaan yang aku kunjungi, disetiap jalan menuju pulang, disetiap lembar buku arsitektur yang kubaca dan bahkan disetiap doa malam yang kupanjatkan kepada Yang Maha Mengetahui
.
Semua sudah berlalu, Amanda. Sudah 3 tahun aku meninggalkan tanah air dan menolak pulang. Dan sekarang aku sedang di Wina dengan segelas kopi dan sebuah pena di sela-sela jariku sedang menulis tentang dirimu. Sembari membuka laptopku untuk membaca ulang kembali e-mail dari dia. Hanya untuk sekedar membaca kabarmu yang dia dan ku pandang kembali fotomu yang dia dengan bayimu yang dia kirim. Kamu tampak bahagia disana. Rambutmu sudah kau potong sebahu. Cantik sekali. Anakmu juga cantik. Dia punya matamu dan sepertinya hidung suamimu. Ah, andai aku bisa menjadi dia.
Amanda, sebuah perusahaan multinasional menawariku untuk bekerja di perusahaan mereka di Jakarta setelah aku lulus. Itu artinya lebih kurang 1 tahun dari sekarang. akan kupergunakan 1 tahun ini untuk mengobati sisa-sisa lukaku. Akan kupergunakan untuk menyiapkan diri bertemu dihadapanmu dan suamimu. Dan untuk menjelaskan semuanya.
Doakan aku, Amanda.
Wina, 3 Januari 2029.
Lelaki ter-pengecut,
Adit.